Minggu, 13 Juli 2014

Cendekiawan Dengan Banyak Masterpiece


 
Cendekiawan Dengan Banyak Masterpiece

Di tahun 1983 ada sebuah buku tentang Nabi Muhammad Saw. yang sangat fenomenal dengan judul Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources atau kalau diterjemahkan jadi Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. Karya masterpiece yang diterbitkan tahun 1983 itu adalah karya seorang cendekiawan muslim dari Inggris. Dengan keahlian yang seolah tak tertandingi, buku ini menghadirkan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dengan narasi dan detil mengagumkan. Buku tersebut, oleh banyak kalangan dinilai sebagai salah satu buku biografi Rasul terbaik yang pernah diterbitkan. Hanya seorang berkemampuan istimewalah yang dapat menghasilkan buku sedemikian menyentuh.
Ya, si empunya buku itu adalah Martin Lings, seorang muslim sufi yang sangat terkenal, dan sangat berdedikasi pada dakwah Islam di benua Biru. Buku yang ia tulis tersebut didedikasikan untuk pemimpin Pakistan, Zia ul-Haq. Buku tersebut cepat terkenal dan menjadi salah satu bacaan wajib mengenai kehidupan Rasul. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa serta memperoleh sejumlah penghargaan dari dunia Islam.
Tulisan dan karya-karyanya mampu memberi inspirasi banyak orang dalam mempelajari Islam. Baginya Islam bukan hanya sekadar agama tetapi petunjuk hidup umat manusia. Martin begitu terkesan dengan Alquran dan pribadi Rasulullah Saw. Martin menyebut tak ada tokoh yang melebihi Nabi Muhammad Saw, baik dalam akhlak maupun kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, bukunya ini menjadi salah satu bukti kecintaannya kepada Rasulullah Saw.
Martin Lings dikenal sebagai seorang penulis produktif. Karya-karyanya sangat banyak. Diantaranya adalah terjemahan teks Islam, puisi, seni, dan filsafat. Tulisan-tulisannya Lings kerap disejajarkan dengan tokoh filsuf abadi dan metafisikawan Prancis, Rene Guenon, hingga cendekiawan Jerman, Fritjhof Schuon. Ia juga identik dengan seorang sufi yang gigih dalam menyebarkan Islam di Barat melalui tulisan dan artikel yang tajam dan kritis. Namun, hal yang paling berkesan dari Lings adalah keterkaitan karya dengan jiwa ihsan (keindahan dan kecemerlangan) yang dimilikinya. Ia mencurahkan jiwa dan hatinya dalam menghasilkan sebuah karya yang inspiratif, jelas, dan berkualitas.
Martin Lings dilahirkan di Lancashire, Inggris, 24 Januari 1909. Tapi lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat untuk mengikuti ayahnya. Ketika keluarganya kembali ke Inggris ia menjadi siswa ke Clifton College, Bristol. Setelah itu melanjutkan pendidikannya di Magdalen College, Oxford. Ia belajar literatur Inggris dan memperoleh gelar BA tahun 1932.
Pada tahun 1939, Lings datang ke Mesir mengunjungi seorang teman dekatnya yang mengajar di Universitas Kairo. Akan tetapi, pada saat kunjungannya itu, sang teman meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kemudian, Lings diminta untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh temannya ini. Dia menerima tawaran tersebut. Lings pun mulai aktif belajar bahasa Arab dan mempelajari Islam. Setelah banyak berhubungan dengan ajaran Sufi Sadzililiyah, dia berketetapan hati untuk masuk Islam.
Di Mesir ia menikah dengan Lesley Smalley. Pada tahun 1952, keduanya memutuskan kembali ke Inggris dan melanjutkan pendidikan ke School of Oriental and African Studies, London dan mendapat gelar doktor. Tesisnya mengenai seorang sufi terkenal asal Ajazair, Ahmad al-Alawi, yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku dengan judul A Sufi Saint of the Twentieth Century. Tahun 1955 Martin bekerja sebagai asisten ahli naskah kuno dari kawasan Timur pada British Museum.
Tahun 1973, Lings memfokuskan perhatiannya terhadap kaligrafi Alquran. Beberapa tahun kemudian, dia mempublikasikan karya klasiknya yang berjudul The Qur’anic Art Of Calligraphy And Illumination, bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Dunia Islam tahun 1976. Komitmennya dalam Islam terbawa sepanjang hayat. Bahkan, sepuluh hari sebelum meninggal dunia, Lings masih sempat menjadi pembicara di depan tiga ribu pengunjung pada acara Maulid Nabi Muhammad Saw yang diadakan di Wembley, Inggris.
Di dunia seni, karya-karya puisi Martin Lings sangat dikagumi. Ia menghasilkan karya berupa sajak sebagai bentuk seni dan estetika yang memancar dari sumber wahyu dan sejarah kreativitas Islam. Sajak karya Lings berjudul Taman, yang ditulis saat kembali ke Inggris tahun 1952, barisnya diilhami oleh doa-doa orang Islam. Lings tak menyembunyikan perasaannya, betapa spiritualitas dan budaya Timur telah memberi makna yang besar bagi hidupnya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar